Cara-mencari-suami-itu-enggak-mudah-sis-penuh-rayu-dan-tipu

Cara Mencari Suami Itu Enggak Mudah Sis, Penuh Rayu dan Tipu

Kalo kamu sedang membaca ini, artinya nasib kita sama, kita lagi pengen tahu cara mencari suami Sis. #toss. Di saat temen-temen kita yang bermuka biasa sudah mendapat suami, kok kita yang oke banget gini (bukan narsis) malah punya pacar pun seret.

Ada sih yang bisa disebut pacar. Tapi jauuuuh banget dari kriteria calon suami yang baik. Boro-boro pengertian, makan sama nonton aja masih sering pelit banget.

Bisa dibilang saya tuh ‘oke banget’ bukan dari pengakuan diri sendiri. Tapi dari penuturan pria dan prestasi di sekitar. Bukan sekali saya dibilang menarik, cantik, enak dilihat. Bahkan dari sisi prestasi, usia se-saya masih jarang lho yang udah punya gaji dan pemasukan tetap di perusahaan mentereng.

Baca juga: Tanda suami selingkuh online

I am a full package. Saya nggak malu-maluin deh kalo diperkenalkan ke teman dan keluarga. Menarik secara fisik, mandiri secara finansial.

Lha tapi suami mana suami?? Saya bingung cara mencari suami, hiks.

Jangan bilang kalian para pria jadi insecure sama saya yang bisa mandiri. Eh saya bukan benalu lho di kehidupan finansial kalian nantinya.

Beberapa kali sempet saya jalanin bakal calon hubungan serius. Ada yang berbeda lima tahun hingga sepuluh tahun. Saya pikir dengan rentang usia yang cukup macam itu, akan membuat mereka merasa imbang.

Nyatanya? Rayuan itu pedih, Jenderal.

Si Pria Selisih Lima Tahun ternyata menganggap saya adalah ‘anak ingusan’ yang bisa dibegoin dengan rayuan ‘Aku mau kamu jadi istriku’. Yes, awalnya saya bego kemakan dengan kata-kata itu. Apalagi saya ucluk-ucluk udah diperkenalkan dengan Ibu dan Eyang Putrinya.

Yakinlah saya bahwa I’m the one for him.

Eh, kampretnya saya enggak sengaja ngeliat HP dia yang ketinggalan di mobil. Di situ ternyata ada chat dari perempuan yang sering dia sebut namanya sebagai ‘Teman dari kecil’. Isinya ternyata ada nama saya disebut. Si Teman Kecil ini bersedia ngalah atau paling enggak tidak Chat dulu di saat Si Pria Selisih Lima Tahun lagi hang-out sama saya.

Perempuan ini rela jadi yang kedua setelah saya. I mean…shit! Ini Si Pria Selisih Lima Tahun mantep amat racunnya sampe bikin dia klepek-klepek begini. Saya pun tahu kemudian bahwa mereka ternyata seumuran dan anggep saya bisa dikadalin karena lebih muda dari mereka.

Yuk, dadah-bye-bye! Buaya kok dikadalin!

Pria berikutnya adalah yang selisih sepuluh tahun. Saya sempet kasihan sih sama yang ini karena udah masuk kepala empat tapi masih juga sendirian. Padahal dari cerita temen-temen deketnya, dia udah beberapa kali berusaha nyari istri. Tapi ya, no luck!

Kalo sama yang beda jauh usia kayak gini nih, Sis bedanya banyak ya. Jadi pastikan kalo Sis-sis di sini mau sama yang beda usia sejauh ini, persiapkan banyak hal. Mulai dari pemikiran hingga segala kemungkinan ketemu temen-temen dia yang udah masuk usia paruh baya.

Pembicaraan di antara kami terkesan kaku. Dia jadi kayak terburu-buru ‘Ayo Nikah!’ dan langsung ketemu Nyokap. Sedangkan dari sisi finansial, aduh boook dia sama temen-temennya udah gonta-ganti mobil dan jual-beli apartemen/rumah. 

Sedangkan saya? Baru mikir untuk nabung memulai uang DP rumah, Cyiiin! 

Baca juga: Cara agar suami makin sayang kepada istri

Intinya bubar juga sama yang selisih sepuluh tahun. Emang banyak enggak nyambungnya juga sih…

Nah, di saat bersamaan, para teman-teman sekolah dan kuliah yang biasa-biasa aja kok malah gampang banget ya nikah? 

Ada satu teman kantor yang saya lihat pertama kali kenalan sama suaminya di kantin bawah. Enggak sampai setahun kemudian mereka sepakat untuk menikah. I mean, what is wrong with me?

Di mana kamu hai, Suami? Saya udah berdarah-darah berkat tipu dan rayu kalian tapi masih juga enggak nemu yang pas.

Bukankah katanya pria zaman sekarang suka sama perempuan mandiri? Suka sama yang enggak nempel macam benalu?

I am on every wish list but still I am not the main choice.

Saya mencoba melihat sisi baiknya. Banyak lho yang buru-buru menikah tapi pada akhirnya menderita di tengah. Sahabat saya sendiri merasakan itu gimana dia dikhianati oleh suami yang baru EMPAT BULAN dinikahinya selingkuh.

Selingkuhnya enggak kaleng-kaleng, Sis. Langsung tidur sama perempuan lain di kasur di rumah sahabat saya. 

Saya juga belajar dari tetangga sebelah rumah yang bertitel Sarjana tapi dibawa melarat sama suaminya yang lulusan SMU. Si suami ini ternyata enggak rela istrinya lebih tinggi pekerjaan dan gajinya sehingga minta tetangga saya untuk resign.

Apakah habis itu si suami bisa ngasih gaji yang lebih? Tentu tidak, wong mereka sekarang cuma hidup dari hasil ojek online kok.

Kalo saya jadi orang tua si perempuan, udah saya maki-maki itu suami. Cerai aja dan dapatkan pekerjaan sendiri yang lebih layak dibanding harus mati konyol dengan uang Rp50 ribu per hari.

Nah sampai di sini, Sis yang baca ini dilema enggak? Kalo enggak, berarti hanya saya yang sampai di level dilema itu..hahaha!

Baca juga: Penyebab suami selingkuh

Di satu sisi mau nikah (baca: kebelet) tapi di sisi lain takut salah pilih dan akhirnya malah ending up punya kehidupan yang a lot worse than I have now.

Jadi sebaiknya cara cara suami itu gimana sih, Sis? Please deh Sis yang udah nikah bisa share tipsnya ke saya (dan para Sis lain di sini)…

Eh saya belum bilang ya, selama dalam proses pencarian suami ini, saya sebenarnya sudah punya pacar. Jadi selama PDKT sama Si Pria Selisih Lima Tahun dan Si Selisih 10 tahun, jadi sebenarnya berstatus pacar orang.

Lah kenapa enggak nikahin aja itu pacar?

That is a good question, Sis sekalian…Tapi masalahnya adalah saya juga enggak yakin sama dia. Perbedaan prinsip di antara kami jauh sekali terbentang dan jelas tidak akan ada jembatan penghubung di antaranya. Satu-satunya alasan saya masih bertahan dengannya adalah hanya karena he took my virginity.

Saya enggak yakin jika ada pria lain di luar sana yang mau nerima diri saya apa adanya, termasuk dengan kekurangan itu. 

Setiap ngomongin pernikahan pun ujung-ujungnya adalah berantem. Jadi saya sudah mencapai kesimpulan bahwa saya dan dia tidak akan pernah menikah.

Lalu kemudian bagaimana cara mencari suami? Saya harus gabung di Tinder atau ikut Taaruf yang dianjurkan sama temen di lapak sebelah?

Well, saya belum se-putus asa itu sih. Masih ada waktu kok, eh masih ada ngga ya? Ahaha..atau ini saya yang denial bahwa sesungguhnya pernikahan bukanlah rezeki buat saya.

Hanya Sis-sis yang paham dengan kegalauan saya. Jadi kalo emang ada sis yang berpengalaman dan berbaik hati, monggo aja ditunggu tips dan triknya cara mencari suami.

And please don’t mention bahwa kalo enggak dapet suami sendiri, ambil aja suami orang. Bit*h, i am not that assh*le...

About the author
cara mencari suami

Related

Login for comment

There are no comments yet.

Be the first to comment here.