Sudah Putus Tetapi Masih Sayang, Salah Gak?

Sudah Putus Tetapi Masih Sayang, Salah Gak?

Apa yah yang harus dilakukan kalau sudah putus tetapi masih sayang? Setiap orang selalu merasakan tentang pengalaman ‘pertama kali’. Kita selalu mengingat saat-saat riang dan gembiranya kencan pertama, jatuh hati, sampai memori indah tentang kebersamaan bersama seseorang yang kita sayangi. Bukan perjalanan namanya kalau hanya mengingat hal yang indah. Momen pertama terburuk yang pernah hadir dan kita alami juga mengenai sakitnya patah hati oleh orang yang kita suka sejak lama, putus cinta karena memang tidak sejalan atau perpisahan sepihak.

Untuk kita yang belum tercerahkan mengenai proses perjalanan mungkin sekarang masih merasakan sakit yang sama dan mengulang memori sakit itu berkali-kali. Padahal upaya untuk melupakan dengan cara menghapus kontak, unfollow akun social media sampai dengan menghapus semua foto yang ada di handphone sudah dilakukan namun tidak kunjung membaik.

Baca juga: Tanda-tanda pacar ingin putus

Apakah salah masih memiliki perasaan padahal hubungan telah berakhir?

Perlu dipahami bahwa memiliki perasaan untuk seseorang merupakan hal yang patut dirayakan oleh setiap manusia, karena apapun bentuknya kadang seseorang hadir untuk datang memberi pelajaran.

Ada suatu kutipan yang menarik mengenai sebuah hubungan.

“Jika kamu siap untuk patah hati, silakan jatuh hati”

Tidak semua orang memiliki kemampuan dalam dirinya untuk bisa bangkit dalam hitungan detik saat patah hati, banyak dari kita yang malah menelan semua emosi dan perasaan sedih itu dalam-dalam. Perasaan sedih itu dipupuk hingga kadang kita melupakan bahwa waktu terus berjalan dan hari esok masih menjadi misteri. Sebenarnya hal tersebut cukup wajar, tapi kita harus mengimbangi dengan kesadaran penuh bahwa sebuah perasaan tidak ada yang benar-benar menetap layaknya awan pada langit biru yang terus berubah begitu pula dengan perasaan.

Baca juga: Alasan cewek tidak mau putus

Berhenti mempertanyakan semua hal

Kadang kepala susah untuk berhenti menyalahkan, apalagi soal hati. Berbagai pertanyaan mengenai :

“Coba saja aku lebih berusaha pada hubungan kemarin”

“Mungkin keadaan akan membaik jika aku tidak bertahan dengan egoku dan mencoba untuk berkompromi”

“Andai di malam itu aku tidak semarah itu pada keadaan dan mencoba menyalahkannya padahal yang bermasalah adalah aku sendiri”

Mempertanyakan hal yang telah berlalu adalah hal yang menguras banyak energi untuk hal yang tidak bisa terulang. Berhenti untuk bertanya dan mencoba menerima keadaan. Berhenti untuk hidup di masa lalu dan berani berdiri sekali lagi untuk benar-benar hidup untuk hari ini dan esok hari.

Saatnya mencintai diri sendiri

Menutup rapat perasaan tidak akan membuat semuanya membaik, jangan bebankan semuanya pada dirimu.

Tidak ada yang bisa mencintai diri kita sendiri kecuali kita membiarkan perasaan itu benar-benar hadir di badan dan jiwa kita. Membiarkan cinta yang tidak terbatas memeluk diri kita. Berhenti untuk membatasi diri dan mencoba untuk merubah rutinitas yang bisa membawa hal positif dalam diri. Seperti berani untuk menceritakan perih melalui teman atau sekedar menulis pada blog pribadi, mencoba ikut open trip ke suatu tempat yang indah dan banyak hal lainnya.

Siapkan diri untuk menerima banyak kejutan semesta

Kini waktunya persiapkan diri untuk menerima banyaknya kebaikan yang ada di sekitar kita. Saat seseorang tercerahkan tentang pentingnya mencintai diri. Maka kita akan lebih bisa membuka mata, hati, dan telinga untuk menerima banyaknya hal menarik yang semesta beri untuk kita. Seperti layaknya anak kecil yang selalu gembira melihat dan mencoba hal baru.

Akhirnya kita menyadari bahwa proses perjalanan melupakan seseorang adalah bagian dari proses menemukan diri kita sendiri menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

Hidup bukan hanya soal warna warni indahnya kehidupan melainkan belajar terus menerus akan abu-abunya ketidakpastian.

Baca juga: Alasan putus yang paling sering digunakan

Bagi kalian para ibu yang saat ini merasakan galau, dan susah move on karena putus cinta atau patah hati, coba deh kalian ikuti terapi menulis belajardaricinta. 

Menurut sebuah studi oleh peneliti di Selandia Baru, menulis membuat pikiran dan perasaan seseorang yang mengalami peristiwa traumatis seperti patah hati, kecewa, depresi menjadi cepat sembuh.

Mereka yang menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam tulisan, mengalami pemulihan lebih cepat daripada tidak menulis. 

Selain itu, studi Universitas Michigan menyebut bahwa menulis jurnal harian (diary) sebagai bentuk ungkapan perasaan adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi rasa khawatir dan overthinking.

Bagi kalian yang saat ini sedang dilanda cemas, gelisah karena putus cinta atau  patah hati coba deh tuangkan perasaan kalian dalam sebuah tulisan. 

Join terapi menulis sekarang juga FREE, KLIK SEKARANG -> TERAPI MENULIS

About the author
Putus CInta Putus Cinta putus putus cinta

Related

Login for comment

There are no comments yet.

Be the first to comment here.