Pengalaman Long Distance Relationship

Pengalaman Menyedihkan LDR, Sudah 6 Tahun Berjalan

Pengalaman long distance relationship (LDR)ini dimulai dari SMP kelas 3, aku yang awalnya sering berkelahi dengan dia hampir setiap hari lama - lama merasa ada keanehan di antara kita, ketika dia untuk pertama kalinya memulai percakapan melalui line chat. Pengalaman LDR ini diawali dari percakapan dimulai dari sapaan dan pertanyaan terkait dengan klub sepak bola, rasanya cukup aneh karena kita sejarang itu untuk bercakap antara satu sama lain. 

Dimulai dari kata "Arsenal Cupu" membuat aku memanas dan lanjut membalas hujatannya terhadap klub sepak bola kesukaannya yakni Manchester United. Chat pertama kami berlanjut sampai subuh di mana ini diakhiri dengan kami yang sudah mengantuk dan akhirnya memutuskan untuk tidur. Tetapi sebelum itu terlintas di pikiranku untuk mengirimkannya sebuah pesan dan akhirnya kuberanikan diri mengirimkan pesan tersebut "seru juga ya chat-an sama lo, besok chat lagi ya". 

Baca Juga: Tanda Wanita Jatuh Cinta

Dia pun mengiyakan dan mulai dari situ chat kami berlanjut terus, hampir setiap hari kami mengobrol via chat dan tidak terasa 3 bulan berlalu dan kami masih sering berbincang baik di sekolah dan chat. Hubungan kami mulai membaik sejak chat tersebut dan terus berlanjut, sampai akhirnya pada saat libur kenaikan kelas SMA 1 dia menyatakan cintanya. Saat itu saking deg - degannya aku tak membalas sampai satu harian karena bingung harus menjawab apa dan takut untuk berkomitmen, sudah berusaha untuk menenangkan diri dengan menanyakan pendapat dari teman sekitar dan akhirnya memantapkan hati dengan menerima pernyataan cintanya. 

Dimulai dari situ kami pun mulai berpacaran, SMA kelas 1 berlanjut terus sampai ke SMA kelas 3 di mana banyak sekali lika - liku yang dilalui. Tetapi, dari semua lika - liku yang kami lalui yang menurutku paling berat adalah ketika dia berkata padaku bahwa dia akan pindah ke Amerika dengan satu keluarganya setelah lulus SMA nanti. Jujur aku sangat sedih tapi untuk menjaga image ku jadi aku hanya menjawab "Ya santailah masih lama juga kan". Mulai dari percakapan tersebut waktu terasa cepat seiring dengan kegelisahan hatiku karena harus merelakan dia untuk pergi jauh, akupun meragukan diriku dalam berhubungan jarak jauh apalagi jarak jauh antar negara. 

Sampai akhirnya tertinggal satu hari waktu kami untuk bertemu sebelum dia berangkat, akupun bertanya kepadanya "Ini kamu serius ga sebenernya sama aku? aku gamau nunggu kalau ga ada kepastian dari kamu" lalu dia pun menjawab "Kalo ga serius kayaknya gak bakal bertahan sampai sekarang deh, pokoknya kamu tunggu aku ya soalnya aku pasti bakal pulang". Akupun bertanya lagi “Kalau semisal salah satu dari kita udah ga bisa LDR gimana?” tanyaku dengan air mata yang berlinang, “Aku ga mungkin ngerasa begitu, tapi semisal kamu udah ga kuat ya mau gak mau aku harus lepasin kamu”. Seketika suasana hening dan aku hanya bisa bertanya apakah aku bisa kuat menghadapi hubungan ini. 

Pada saat hari - H dia meninggalkanku, aku hanya bisa terdiam di bandara melihatnya membenarkan kopernya dan kemudian melihat ke arahku. Sesaat aku memalingkan wajahku lantaran menahan tangisan yang dari tadi ku sembunyikan, pada saat waktunya tiba untuk dia dan keluarganya pergi aku pun menyalami keluarganya satu persatu sambil mengucapkan perpisahan dan semoga sampai dengan selamat, sampai akhirnya tinggal dialah yang harus aku hadapi. Kami bersalaman dan sambil berlinang air mata aku pun berkata “Safe flight ya, kamu jaga diri baik - baik, kalau semisal kita ga sama - sama lagi kamu harus tetep jaga diri dan sekolah baik - baik ya”. 

Dia memelukku erat sambil menangis, tapi karena waktu yang terbatas akhirnya dia melepas pelukanku lalu langsung menuju pintu masuk bandara, untuk terakhir kalinya dia melihatku di balik pintu sambil memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihatku melambaikan tangan. Aku pun pulang ke rumah dengan keadaan mata sembab karena menangis terus dari awal perjalanan sampai tiba di rumah. Mengurung diri beberapa hari dikamar dan terus menangis, sampai akhirnya aku pun bisa menjalankan realita hidup tanpa rasa kesedihan.

Singkat cerita tahun demi tahun berlalu dan tidak terasa hubungan kami sudah berjalan selama 6 tahun, segala permasalahan sudah kami lalui, terlebih pada saat awal LDR ketika kami jadi lebih jarang chat dan masih sulit dalam mengatur waktu, ketika kami masing - masing sibuk dengan pekerjaan masing - masing, ataupun ketika dia tidak dapat pulang sama sekali karena satu dan lain hal, semua dapat kami lalui bersama - sama. Tidak tahu bagaimana kelanjutannya kedepan, dengan aku yang sebentar lagi akan menjalankan sidang skripsi dan dia yang juga sedang fokus dengan karir nya, tetapi aku harap jika nantinya aku harus menuliskan kelanjutan dari cerita ini, semoga saja hubungan LDR kami berdua dalam keadaan bahagia baik bersama ataupun berpisah. 

BACA JUGA: Cara Merawat Pacar yang Sakit saat LDR atau Social Distancing

About the author
LDR Curhat

Related

Login for comment

There are no comments yet.

Be the first to comment here.